(BM) – Presiden Prabowo Subianto menyinggung sejarah politik adu domba atau divide et impera yang menurutnya pernah digunakan kekuatan asing untuk memecah belah Indonesia. Prabowo juga mengungkapkan Indonesia sempat diperkirakan akan terpecah setelah krisis ekonomi dan politik pada 1997-1998.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat memimpin sidang kabinet paripurna untuk mengevaluasi 2 tahun pemerintahan bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo menilai Indonesia telah menghadapi berbagai tantangan sejak merdeka, mulai dari pemberontakan, kerusuhan, hingga dugaan campur tangan kekuatan asing.
“Bangsa Indonesia tidak bisa dihentikan. Berpuluh tahun sejak kita merdeka, bangsa-bangsa besar selalu intervensi, selalu ganggu kita, selalu menghasut perpecahan, selalu membiayai pemberontakan, kerusuhan, adu domba, divide et impera,” ujar Prabowo.
Presiden menyebut sejumlah pergolakan yang pernah terjadi dalam sejarah Indonesia, antara lain pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), Republik Maluku Selatan (RMS), serta Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Rakyat Semesta (PRRI/Permesta).
Menurut Prabowo, berbagai pergolakan tersebut menunjukkan besarnya tantangan yang pernah dihadapi Indonesia dalam mempertahankan persatuan nasional.
Indonesia Pecah
Prabowo kemudian mengingat kembali krisis ekonomi dan politik yang melanda Indonesia pada 1997-1998. Ia menyebut terdapat pihak-pihak yang ketika itu memperkirakan Indonesia tidak akan mampu mempertahankan keutuhannya.
“Kita sadar ’97-’98 banyak yang meramalkan, banyak yang berharap, dan banyak yang berulah. Sekarang kita sudah tahu, semakin yakin banyak yang terlibat. Mereka yakin Indonesia pecah pada ’99, pada 2000,” kata Prabowo.
Meski demikian, menurut presiden, Indonesia mampu melewati masa sulit tersebut tanpa mengalami perpecahan sebagaimana yang dikhawatirkan. “Ternyata kita punya ketahanan nasional yang cukup kuat, rakyat kita semakin pandai,” lanjutnya.
Prabowo menilai pengalaman menghadapi berbagai krisis menjadi bukti pentingnya menjaga ketahanan nasional. Ia juga menekankan peran masyarakat dan para pemimpin dalam mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Utamakan Persatuan
Berkaca pada pengalaman sejarah tersebut, Prabowo menegaskan persatuan nasional menjadi salah satu landasan politik yang dijalankannya. Ia mengajak seluruh kekuatan politik dan elemen masyarakat untuk tidak membiarkan perbedaan menghambat upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat.
“Marilah kita tanamkan perbedaan-perbedaan kita. Marilah kita bersatu untuk kepentingan yang besar, kepentingan rakyat Indonesia hidup sejahtera,” ujar Prabowo.
Presiden juga menekankan pentingnya menjaga kerukunan di tengah keberagaman agama, suku, bahasa, adat, dan budaya Indonesia. Menurutnya, perbedaan tersebut merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga melalui sikap saling menghormati dan mendukung.
Pesan persatuan itu disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna yang dimulai pukul 15.00 WIB dan dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming, jajaran Kabinet Merah Putih, serta sejumlah pejabat tinggi negara. Sidang tersebut menjadi forum evaluasi 2 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran sekaligus pembahasan berbagai tantangan nasional di tengah ketidakpastian global.







