Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kota Pekanbaru menerima kunjungan lapangan puluhan mahasiswa dari Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Hang Tuah Pekanbaru, Rabu (7/6).
Tujuan dari kedatangan tersebut dalam rangka pengaplikasian pengetahuan dari para mahasiswa terkait dengan gizi dan ketahanan pangan sesuai dengan bidang kerja di Disketapang Kota Pekanbaru. Disketapang Pekanbaru pun tak sungkan untuk memberikan pembinaan kepada para mahasiswa.
Kedatangan rombongan yang dipimpin oleh dosen pengampu Winda Septiani SKM,M.Kes disambut Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda Disketapang, Purwati SP, MMA didampingi Pengawas Mutu Hasil Pertanian/Koordinator Penganekaragaman Konsumsi Pangan Dewi Sri Rejeki Sukmela, Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda/Sub Koordinator Sumber Daya Pangan Susy Indry juga Kasubag Umum Dedek Sulaiman.
Purwati, dalam penjelasannya mewakili Kepala Dinas Ketahanan Pangan Hj El Syabrina mengungkapkan ada tiga tugas utama yang berkaitan dengan Disketapang, yakni berkaitan dengan ketersediaan, keterjangkauan dan pemanfaatan pangan.
Tiga tugas utama itu didistribusikan melalui tiga bidang yang ada di Disketapang yang menjangkau seluruh aspek terkait pangan.
Purwati juga menjelaskan, meski secara umum, kondisi ketahanan pangan di Kota Pekanbaru mencukupi. Namun yang harus dipahami adalah bahwa Pekanbaru bukanlah daerah produsen bahan pangan.
Pekanbaru sangat tergantung dari suplai pangan yang didatangkan dari daerah-daerah penghasil seperti Sumbar, Sumut dan daerah sekitar lainnya.
Secara total, jelas Puti, begitu dia akrab disapa, Pekanbaru hanya memproduksi sebanyak 13 persen. Sementara sisanya, sebanyak hampir 80 persen, didatangkan dari luar daerah.
Karena itulah, memastikan kelancaran arus masuk bahan pangan ke Kota Pekanbaru akan sangat menentukan terhadap ketersediaan maupun harga komoditas pangan di Kota Pekanbaru.
Meski begitu, upaya untuk tetap memproduksi bahan pangan secara lokal tetap dilaksanakan melalui program-program pembinaan, pengembangan potensi pertanian, perkebunan, peternakan, salah satunya melalui Disketapang.
”Kita ikut membina kelompok wanita tani (KWT), termasuk dengan memberikan bibit sayuran, buah, bibit ternak baik ikan maupun ayam yang kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan ketahanan pangan berbasiskan masyarakat,” sebut Puti.
Melalui program-program yang ada di dinas, Disketapang seperti Si Diva, Sicantig, program P2L, pengolahan dan penganekaragaman pangan, Disketapang berupaya mencari solusi untuk mencegah rentan rawan pangan di Kota Pekanbaru.
Seperti aplikasi Si Diva, Disketapang memetakan potensi kerawanan pangan di sekitar wilayah Kota Pekanbaru.
Melalui data potensi kerentanan dan kerawanan pangan ini juga, sebut Puti, Disketapang membuat program-program prioritas untuk penanggulangan permasalahan kerentanan pangan di tiap wilayah.
Sembari membuka aplikasi FSVA (Food Security Vulnerability Atlas/ Peta Ketahanan dan Kerawanan Pangan), Puti juga menjelaskan kepada kalangan kampus ini tentang kondisi wilayah yang potensial untuk terjadi rentan rawan pangan di Kota Pekanbaru.
Ikut melengkapi, Dewi Sri Rejeki Sukmela menjelaskan, selain dari sisi ketersediaan, Disketapang juga memiliki sejumlah program yang berkaitan dengan gizi maupun kenganekaragaman termasuk keamanan pangan masyarakat.
”Pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan, namun juga penganekaragaman juga keamanan pangannya. Karena kita bukan daerah produsen beras, maka potensi lahan juga bisa digunakan untuk menanam bahan pangan pengganti seperti jagung, ubi dan lainnya. Kami mengajak masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan untuk menanam, sehingga, tak juga harus membeli, dari pekarangan pun bisa menghasilkan,” kata Dewi.
Nah, untuk keamanan pangan, pada kesempatan itu, juga Dewi mengajak masyarakat, kalangan mahasiswa untuk mengedukasi pemanfaatan laboratorium pangan Disketapang untuk memastikan keamanannya.
Meski belum menyeluruh, namun, Dewi menjelaskan, Laboratorium Disketapang sudah bisa digunakan untuk menguji kualitas keamanan pangan dari residu atau kontaminasi zat-zat berbahaya seperti pestisida, timbal, termasuk jamur.
”Jadi labor kita sudah bisa dimanfaatkan. Kami mengajak adik-adik mahasiswa untuk memanfaatkan laboratorium ini untuk edukasi, kalau ada yang ingin menguji kualitas keamanan pangan, bisa dilakukan di lab kita dan itu gratis,” imbuh Dewi.
Pada kesempatan itu, cukup banyak diskusi yang berlangsung.
Ketua Rombongan, Winda Septiani SKM,M.Kes mengaku sangat senang bisa kembali melakukan kunjungan bersama para mahasiswa ke Disketapang ini.
Bahkan, dia mengaku kalau ilmu yang di dapatkan di Disketapang ini jauh lebih lengkap dan menyeluruh terhadap aplikasi dari ilmu pengetahuan khususnya untuk gizi dan pangan.
Selama ini, memang kebanyakan dari para mahasiswa magang pada Puskesmas atau pusat layanan kesehatan. Namun, ke depan, tidak tertutup kemungkinan untuk membuka kerja sama dengan Disketapang mengingat ada beberapa perkualiahan yang bersinggungan langsung dengan program di Disketapang ini.
Dia juga melihat bagaimana para mahasiswa bisa mendapatkan langsung pengetahuan tentang pangan dan rasio kecukupan gizi bersadarkan data riil di tengah masyarakat, khususnya di Kota Pekanbaru.
”Karena itulah, kami menyampaikan terima kasih kepada Disketapang yang bersedia berbagi pengalaman kepada para mahasiswa untuk melihat kondisi riil dari persoalan pangan dan gizi masyarakat dan upaya-upaya yang telah dan sedang dilaksanakan untuk mengatasinya. Kami pikir ini adalah pengalaman yang paling dibutuhkan oleh para mahasiswa, sebelum akhirnya mereka mengabdi ke tengah masyarakat,” kata dia.








